Kamis, 07 September 2023

SOAL PUISI (STIMULUS)

 

Memaknai Puisi

 Bacalah baik-baik puisi berikut!

 

Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi

(Suripan Sadi Hutomo)

 Apa kau telah dapat ganti rugi

Dari tanahmu yang dibuat pabrik Jerami

Apa kau telah dapat ganti rugi

Apakah kau hanya dibohongi?

Meterai dan kertas berhuruf kanji

Tak seindah bunga bakung di tepi kali

Meterai dan kertas yang digores belati

Tak seindah Jerami menoreh pasir di bumi

Telah ditebang pohon kedondong dan maoni

Telah ditebang pohon-pohon hijau trembesi

Telah ditebang pohon-pohon pakisaji

Telah ditebang jiwamu yang tak ditopang beton bersigi

 

Aku sebagai saksi

Aku semut yang bersarang di daun pakisaji

Aku ulat yang merayap di kelopak kulit trembesi

Aku burung pelatuk yang berumah di pohon maoni

Apa kau telah dapat ganti rugi

Dari tanahmu yang dibuat pabrik Jerami

Apa kau telah dapat ganti rugi

Apakah kau hanya dibohongi

Aku sebagai saksi

 

 

Jawablah pertanyaan berikut!

1.  1. Perhatikan judul tersebut. Apa persoalan yang tergambar dari kata-kata yang dipilih penyair?

2.  2.  Apa yang dimaksud dengan ‘ganti rugi’ pada larik-larik puisi tersebut?

3.   3. ‘Kau’ dalam puisi tersebut merujuk/menggambarkan siapa?

4.  4. ‘Telah ditebang pohon…’ berkali-kali digambarkan oleh penyair dalam puisinya. Uraikan gambaran apa yang kamu dapat dari imaji tersebut!

5.  5. Apa makna ‘Meterai dan kertas’ pada larik ke-5 dan ke-7 puisi tersebut?

6.  6. Mengapa penyair menggunakan ‘bunga bakung’ (larik ke-6) dan bukan bunga yang lain?

7.  7. Apa hubungan ‘Meterai dan kertas’ dan ‘Tak seindah bunga bakung di tepi kali’ pada larik selanjutnya?

8.  8. Majas repetisi banyak digunakan dalam puisi ini. Menurutmu apa alasan penulis?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunci

1.   1. Persoalan yang hendak dikemukakan penyair tidak jauh dari masalah ketidakadilan, ingkar janji, kebohongan, atau penindasan.

2.   2. Ganti rugi dalam puisi tersebut menggambarkan imbalan yang diberikan sebagai ganti atas pengorbanan rakyat untuk pembangunan oleh pihak yang lebih berkuasa

3.  3.  Kau menggambarkan kaum yang tertindas oleh penguasa

4.   4. Telah ditebang pohon…menggambarkan pemandangan yang miris, memprihatinkan.  Pohon hijau sebagai penyejuk lingkungan alam telah tergusur oleh pembangunan.

5.   5. Surat perjanjian antara penguasa dan rakyat

6.   6. Bunga bakung adalah bunga yang tumbuh liar di pinggir kali, tidak terpelihara meski sebenarnya bentuknya indah. Digunakan untuk menggambarkan perjanjian/kesepakatan itu bernasib mengenaskan. Tak seperti bunga anggrek, bunga lili, dll yang terpelihara.

7.   7. Kesepakatan/perjanjian antara penguasa dan rakyat tak berjalan baik, hanya teronggok tak bermakna.

 

PUISI

 PUISI

a.    Genre Puisi

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang- kadang kata kiasan.

Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan, Waluyo (1991) membedakan (1) puisi naratif, (2) puisi lirik, dan (3) puisi deskriptif. Sesuai dengan namanya, puisi naratif adalah puisi yang digunakan untuk menyampaikan suatu cerita. Selanjutnya puisi naratif dibedakan menjadi epik, romansa, dan balada. Epik atau epos

adalah puisi naratif yang menceritakan kepahlawanan tokoh. Romansa adalah puisi naratif yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan tokoh ksatria yang penuh rintangan .

Puisi lirik adalah puisi yang digunakan untuk menungkapkan gagasan pribadi penyairnya atau aku lirik. Selanjutnya, puisi lirik dibedakan menjadi (1) elegi, (2) serenada, dan (3) ode. Elegi merupakan puisi yang mengungkapkan perasaan duka penyair atau aku lirik. Berbeda dengan elegi yang menggambarkan suasana duka, serenada merupakan puisi lirik yang bersuasana senang. Ode merupakan puisi lirik yang berisi pujian terhadap seseorang, pada umumnya pahlawan.

Puisi deskriptif adalah puisi yang mengemukakan tanggapan atau kesan penyair terhadap suatu hal atau keadaan. Berbeda dengan puisi naratif yang berisi cerita, dan lirik yang mengemukakan gagasan pribadi penyair atau aku lirik, maka puisi deskriptif cenderung menggambarkan tanggapan atau kesan penyair terhadap suatu hal. Tanggapan atau kesan tersebut dapat bersifat kritik maupun sindiran, sehingga dikenal adanya puisi ironi dan satire (kritik)

2.                    Mengapresiasi Karya Sastra Secara Reseptif dan Produktif Pendekatan Emotif

Karya sastra adalah salah satu bagian dari karya seni yang sarat berbagai nilai-nilai estetis. Nilai estetis tersebut diharapkan dapat dinikmati oleh pembacanya. Apakah Anda pernah merasakan senang atau puas pada saat atau setelah membaca karya sastra? Jika Anda merasakannya, maka Anda telah merasakan nikmatnya karya sastra.

Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk mampu menemukan dan menikmati nilai keindahan (estetis) dalam suatu karya sastra tertentu, baik dari segi bentuk maupun dari segi isi. Kaitannya dengan pendekatan emotif, Aminuddin (2004) mengemukakan bahwa pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengaduk emosi atau perasaan pembaca.

Hal itu itu berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun isi atau gagasan menarik dalam karya sastra.

Pendekatan Didaktis

Pendekatan didaktis berkaitan dengan kualitas karya sastra, antara lain ditentukan oleh ada tidaknya nilai kemanfaatan didaktis yang terkandung di dalamnya. Semakin banyak kandungan nilai kemanfaatan didaktis-humanistik semakin tinggi pula mutu karya sastra itu. Pendekatan didaktis mengantar pembaca untuk memperoleh berbagai amanat, nasihat atau pandangan keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai yang dapat memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. Aminuddin (2004)mengemukakan bahwa pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan, evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.

Pendekatan Analitis

Pendekatan ini mengajak Anda untuk memahami secara lebih lengkap dibanding pendekatan emotif dan didaktis. Aminuddin (2004) mengungkapkan bahwa pendekatan analitis merupakan pendekatan yang berupaya membantu pembaca memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan, sikap pengarang, unsur instrinsik, dan hubungan antara elemen itu sehingga dapat membentuk keselarasan dan kesatuan dalam rangka terbentuknya totalitas bentuk dan maknanya.

Pendekatan Parafrastis

Parafrase berarti pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, namun tanpa mengubah maknanya. Aminuddin (2004) menjelaskan bahwa parafrase dalam konteks sastra adalah strategi pemahaman makna suatu bentuk karya sastra dengan cara

mengungkapkan kembali karya pengarang tertentu dengan menggunakan kata-kata yang berbeda dengan kata-kata yang digunakan pengarang.

Pendekatan parafrastis pada dasarnya beranjak dari prinsip bahwa (a) pengubahan bentuk karya sastra tertentu ke dalam bentuk sastra yang lain (puisi ke prosa atau sebaliknya) akan semakin meningkatkan keluasan dan ketajaman pemahaman pembaca yang bersangkutan (b) gagasan tertentu dapat dikemukakan dalam bentuk yang berbeda, misalnya puisi ke prosa, (c) simbol yang konotatif (mengandung ketaksaan makna atau abstrak) dapat diganti dengan kata yang lebih konkret dan mudah dipahami, (d) pengungkapan yang eliptis dapat ditambah sehingga semakin lengkap dan mudah dimengerti.

Bahan Bacaan 3

 

Unsur-unsur Pembangun Teks Puisi

Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya

adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).

Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu

1.          Sense (tema, arti)

Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).

2.          Feeling (rasa)

Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.

3.          Tone (nada)

Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.

 

4.          Intention (tujuan)

Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair

Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana. Sarana- sarana tersebutlah yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari:

 

1.     Diction (diksi)

Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.

2.     Imageri (imaji, daya bayang)

Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi.

Imaji disebut juga citraan, atau gambaran angan. Ada beberapa macam citraan, antara lain

a.      citra penglihatan, yaitu citraan yang timbul oleh penglihatan atau berhubungan dengan indra penglihatan

b.      Citra pendengaran, yaitu citraan yang timbul oleh pendengaran atau berhubungan dengan indra pendengaran

c.       Citra penciuman dan pencecapan, yaitu citraan yang timbul oleh penciuman dan pencecapan

 

d.      Citra                 intelektual,          yaitu      citraan       yang       timbul       oleh       asosiasi intelektual/pemikiran.

e.      Citra gerak, yaitu citraan yang menggambarkan sesuatu yanag sebetulnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak.

f.        Citra lingkungan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran lingkungan

g.      Citra kesedihan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran kesedihan

3.     The concrete word (kata-kata kongkret)

Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slamet Mulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.

4.     Figurative language (gaya bahasa)

Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain

a.      perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.

b.      Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.

c.       Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.

d.      Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.

e.      Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.

f.        Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.

g. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.

5.     Rhythm dan rima (irama dan sajak)

Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,

a.    metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.

b.    Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.

Irama menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup. Irama diwujudkan dalam bentuk tekanan-tekanan pada kata. Tekanan tersebut dibedakan menjadi tiga,

a.   dinamik, yaitu tyekanan keras lembutnya ucapan pada kata tertentu.

b.   Nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.

c.   Tempo, yaitu tekanan cepat lambatnya pengucapan kata.

Rima adalah persamaan bunyi dalam puisi. Dalam rima dikenal perulangan bunyi yang cerah, ringan, yang mampu menciptakan suasana kegembiraan serta kesenangan. Bunyi semacam ini disebut euphony. Sebaliknya, ada pula bunyi-bunyi yang berat, menekan, yang membawa suasana kesedihan. Bunyi semacam ini disebut cacophony.

Berdasarkan jenisnya, persajakan dibedakan menjadi

a.        Rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir.

b.        Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.

c.         Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)

d.        Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.

e.        Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).

f.          Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.

g.        Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.

h.        Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf- huruf mati/konsonan.

Berdasarkan letaknya, rima dibedakan

a.        rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.

b.        Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi

c.         Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.

d.        Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertikal

e.        Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal

f.          Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.

g.        Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab- ba)

h.        Rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).

i.           Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa)

j.           Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb)

k.         Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d)

Parafrase Puisi

Yang dimaksud parafrase puisi adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut. Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.

Ada dua metode parafrase puisi, yaitu

a.      Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.

b.      Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.

 

Contoh Parafrase Puisi Ke Prosa

Membuat parafrase puisi artinya mengubah puisi menjadi bentuk prosa/narasi yang tunduk pada aturan-aturan prosa, namun tidak mengubah makna isi puisi tersebut.

Untuk membentuk sebuah prosa dari puisi perlu diketahui isi puisi tersebut. Artinya yang melakukan parafrase (penulis) harus menemukan gagasan pokok pada kalimat utamanya. Tujuan untuk mencapai hal tersebut. penulis perlu memilih kata atau kalimat yang sesuai atau yang sepadan dan efektif dan mudah dipahami.

Berikut ini contoh parafrase puisi menjadi prosa.

Puisi Nelayan

Nelayan setiap hari kau pergi
Ke laut untuk mencari ikan
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga
Walau ada badai dahsyat kau tak peduli.

Bentuk Parafrase puisi ke prosa

Nelayan setiap hari pergi ke laut untuk mencari ikan tanpa kenal lelah. Dia melakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah yang selalu menanti dengan penuh kecemasan.Walau ada badai dahsyat yang menerpa, namun dia tetap tak peduli demi kelangsungan hidup sehari-hari.

Puisi Kerbau

Kerbau
berekor dan bertanduk
membantu petani membajak sawah
Kerbau
berwarna abu-abu
membantu petani sepanjang hari
tanpa lelah letih
Kerbau
berekor dan bertanduk
menemani petani
hingga panen tiba

Bentuk Parafrase puisi ke prosa:

Kerbau mempunyai ekor, tanduk, dan berwarna abu-abu. Kerbau membantu petani di sawah. Kerbau berguna untuk membajak sawah. Kerbau membajak sawah sepanjang hari tanpa mengenal lelah dan letih. Setelah membajak sawah, kerbau tetap setia menemani petani hingga masa panen tiba.

 

Puisi Tangisan Air mata Bunda

 

Dalam Senyum kau sembunyikan letihmu
Derita kala siang dan malam menimpamu
tak sedetik pun menghentikan langkahmu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagiku

Bentuk Parafrase puisi ke prosa:

Ibu tetap tersenyum walaupun dalam kondisi letih. Meskipun bekerja keras ketika siang dan malam, tidak pernah sedetik saja ia menyerah. Untuk tetap bisa memberikan harapan baru bagi anaknya.

Puisi Aku (Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

 Bentuk Parafrase puisi ke prosa

Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya.

 Puisi lirik atau puisi liris adalah puisi yang berisi ungkapan perasaan yang ditulis dalam bentuk larik-larik atau baris-baris. Adapun contoh dari puisi lirik atau puisi liris tersebut adalah sebagai berikut.

Contoh 1:

Narcissus¹
Karya: Sapardi Djoko Damono

seperti juga aku: namamu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma

atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun
dan jatuh di telaga: panndangmu berpendar, bukan?
cemaskah aku kalau nanti air hening kembali?
cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi?

1971

¹Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni (Jakarta, Gramedia:2015) , hlm 57.

Contoh 2:

Cinta yang Tenang²
Karya: Candra Malik

Cinta kita tak berkobar-kobar,
kita api yang tenang.
Rindu kita tak lantas membakar,
kita 
api yang tenang.

Lembut tapi menghangatkan,
kecil tapi dipertahankan,
redup tapi melegakan,
pelita bagi kegelapan.

Cinta dan rindu, kau dan aku:
dua yang telah menjadi satu.

Cinta dan rindu, kau dan aku:
bukan bara yang menjadi abu.

Bandung, 12 Februari 2015

²Candra Malik, Asal Muasal Pelukan, (Yogyakarta, Bentang Pustaka:2016), hlm 5.

Contoh 3:

Kakawin Kawin³
Karya: WS Rendra

Aku datang. Aku datang kepadamu.
Dengan pakian pengantin.
Kujemput kau ke rumahmu
dan ku bawa ke gereja.

Aku datang. Aku datang kepadamu.
Ku baca ke langit beledu.
Fajar pertama kau wanita
kusingkap padamu dengan perkasa.

Maka hujan pun turun
karena huja adalah rahmat
da rahmat adalah bagi pengantin.
Angin jantan yang deras
menggosoki sekujur badan bumi
menyapu segala nasib yang malang.
Pohon-pohonan membungkuk
segala membungkuk bagi rahmat
dan rahmat hari ini
adalah bagi pengantin.

Aku datang. Aku datang padamu.
Dan 
hujan membersihkan jalanan.
Kuketuk pintu rumahmu
dan rahmat sarat dalam tanganku.
Kau gemetar menungguku
dengan baju pengantin hijau
dan sanggulmu penuh bunga.
Permata-permata yang gemerlapan di tubuhmu
bagai hatimu yang berdebar-debar
gemerlapan
menunggu kedatanganku.

³WS Rendra, Empat Kumpulan Sajak(Bandung, Pustaka Jaya:2016), hlm40-41.

 

 

Contoh puisi naratif (cerita)

 Puisi Balada

1. Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Karya: WS Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri

Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.

Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapaknya.

2. Balada Orang-orang Tercinta
Karya: W.S. Rendra

Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan
dengan secuil redup harapan

Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang
di ujung terowongan yang terang
Namun cinta tidak membawa kita
memahami satu sama lain

Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari kita
Untuk berhenti berpura-pura?

Kita meleleh dan tergerus
Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa
rasanya mengalir bersama kehidupan
Melupakan hal-hal kecil
yang dulu termaafkan

Mengapa kita saling menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu
membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta

3. Balada Ibu yang dibunuh
Karya: W.S. Rendra

Ibu musang di lindung pohon tua meliang
Bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bualan sabit terkait malam memberita datangnya
Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun
Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya
Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.

Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga
Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
Matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
Tanpa dukungan satu dosa, tanpa.

 

Contoh puisi deskripsi

 

 1. Puisi Kritik Sosial Kehidupan Saat Ini

Bagian pertama kumpulan contoh puisi kritik sosial adalah rangkaian kata kata puisi kritik sosial kehidupan saat ini, selengkapnya disimak contoh puisi kritik sosial dan pengarangnya

DI ANTARA AROGAN DAN PANDIR

Oleh: Panji Bhuana

 

Ketika arogan memenuhi ruang hati,
Jejak laksana lingga yang pasti,
Di tengah lautan buih meniti,
Badai gelombang silih berganti,

Namun sayang obsesi menganak kali,
Mengalir deras dalam arus kekuasaan tanpa esensi,
Mengabaikan sendi-sendi yang merangkai sepanjang kaki,
Meluka daging tersayat serasa nyeri,

Arogan berkoar seakan-akan tak peduli,
Tiada mencerna pikir di dalam sanubari,
Hati makar mengumbar emosi
Pandir menjalar cemooh melukis sensasi,

Jiwa-jiwa rakus kerasukan candu 0bat bivs,
Laksana amoniak keluar dari lubang kakus,
Menebar bau busuk tidak terurus,
Tidak sadar diri bahwa ia hanyalah yang diutus,

Anak beranak mencicit laksana tikus,
Menggerogoti sampah di ladang humus,
Selaksa resah mereguk lahan tandus,
Fatamorgana membias menuju waktu lampus

 2. Puisi Kritikan Pemimpin

Selanjutnya kumpulan puisi tentang kritik sosial adalah tema puisi sindirin untuk pemimpin atau puisi kritik untuk pemimpin, yang ditulis dalam bentuk puisi bermajas sarkasme atau contoh puisi satire dan kritik sosial pemimpin.

Apakah puisi kritik ini bercerita seperti puisi untuk pemimpin daerah atau puisi tentang politik negeriku, selangkapnya disimak saja dibawah ini.

PEMUJA BERHALA

Oleh: Panji Bhuana

 Bumi merintih tertikam pedih,
Keangkuhan dunia hebat berdalih,
Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah,
Sawah-sawah kekeringan tiada lagi basah,

Pepohonan merangkas kambium lapuk lepas,
Tangan-tangan angkara mengoyak beringas,
Akar-akar hampa tinggallah ampas,
Semua diselesaikan tuntas tanpa bekas,

Langit murka menggelegar membahana,
Kilatan bunga api berloncatan mengguncang suasana,
Jiwa-jiwa menciut di ancam bahaya,
Banjir bandang melanda bumi laksana lautan segara,

Lautan mengamuk melibas bumi remuk,
Hamparan dunia berubah aneka bentuk,
Keresahan menjalar di dalam desah nan suntuk,
Kedamaian sirna menguap koar selaksa kutuk,

Tuding menuding keluar dari isi kepala,
Tidak ada yang mau disalahkan apa dan siapa,
Sebuah pembenaran melukis cacat cela,
Yang selalu berkibar di hati para pemuja berhala,

TUDING MENUDING

Oleh: Panji Bhuana 

Tak perlu tuding menuding,

Nanti isi otak menjadi sinting,
Seperti kerbau bunting,
Tak sadarkah tanah ini sedang genting,

Selaksa jiwa tiada bergeming,
Terjebak dilema membuat pusing,
Di sana miring di sini miring,
Badai prahara membuat bahtera terombang-ambing,

Terlalu banyak persoalan membuat gering,
Tak pernah terlintas mana yang lebih penting,
Jerit lolong jelata melengking,
Membahana parau terdengar nyaring,

Akibatnya banyak orang berbibir sumbing,
Berceloteh garang setajam gunting,
Tikam menikam selaksa banting,
Sudah keok duluan sebelum bertanding,

Hai kalian yang bersembunyi di balik dinding,
Terasa berat benar kakimu di bebani gemerincing,
Sementara banyak jiwa terkapar dalam terik menggelinding,
Terjerat waktu tak sempat bersaing,

Terdengar kepiluan nestapa di kuping,
Memekakan gendang telinga bising berdenging,
Tiada cinta nan indah di sanding,
Begitu pula kerinduan laksana ranting kering,